Urgensi Tauhid Dalam Mengangkat Derajat Dan Martabat Kaum Muslimin
Urgensi Tauhid Dalam
Mengangkat Derajat Dan Martabat Kaum Muslimin
Khutbah Pertama
Oleh: Andri
Sugeng Prayoga
Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ
لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَا
أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ
وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ
مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا
وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ
كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا
قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا
بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ
صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ
بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِيْ النَّارِ.
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى
يَوْمِ الدِّيْنِ.
Ma'asyirol Muslimin rahimakumullah
...
Segala puji bagi Allah, Rabb dan sesembahan sekalian
alam, yang telah mencurahkan kenikmatan dan karuniaNya yang tak terhingga dan
tak pernah putus sepanjang zaman kepada makhluk-Nya. Baik yang berupa
kesehatan, kesempatan sehingga pada kali ini kita dapat menunaikan kewajiban
shalat Jum’at.
Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada pemimpin dan
uswah kita Nabi Muhammad, yang melalui perjuangannyalah, cahaya Islam ini
sampai kepada kita, sehingga kita terbebas dari kejahiliyahan, dan kehinaan.
Dan semoga shalawat serta salam juga tercurahkan kepada keluarganya, para
sahabat dan pengikutnya hingga akhir zaman.
Pada kesempatan kali ini tak lupa saya wasiatkan kepada
diri saya pribadi dan kepada jama’ah semuanya, agar kita selalu meningkatkan
kwalitas iman dan taqwa kita, karena iman dan taqwa adalah sebaik-baik bekal
untuk menuju kehidupan di akhirat kelak.
Ma'asyirol Muslimin rahimakumullah
...
Tauhid adalah pegangan pokok dan sangat menentukan bagi
kehidupan manusia, karena tauhid menjadi landasan bagi setiap amal, menurut
tuntunan Islam, tauhidlah yang akan menghantarkan manusia kepada kehidupan yang
baik dan kebahagiaan yang hakiki di alam akhirat nanti. Dan amal yang tidak
dilandasi dengan tauhid akan sia-sia, tidak dikabulkan oleh Allah dan lebih
dari itu, amal yang dilandasi dengan syirik akan menyengsarakannya di dunia dan
di akhirat. Sebagaimana Allah berfirman:
“Dan
sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelum kamu, ‘jika
kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu
termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah Allah saja yang
kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”. (Az-Zumar:
65-66)
Hamba Allah yang beriman ...
Tauhid bukan sekedar mengenal dan mengerti bahwa pencipta
alam semesta ini adalah Allah, bukan sekedar mengetahui bukti-bukti
rasional tentang kebenaran wujud (keberadaan)Nya dan wahdaniyah
(keesaan)Nya dan bukan pula sekedar mengenal Asma’ dan sifatNya.
Iblis mempercayai bahwa Tuhannya adalah Allah, bahkan
mengakui keesaaan dan kemahakuasaan Allah dengan permin-taannya kepada Allah
melalui Asma dan sifat-Nya. Kaum Jahiliyah Kuno yang dihadapi Rasulullah juga
meyakini bahwa pencipta. Pengatur, Pemelihara dan Penguasa alam semesta ini
adalah Allah. Sebagaimana Allah berfirman:
“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah
yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah.” (Luqman:
25).
Namun kepercayaan mereka dan keyakinan mereka itu
belumlah menjadikan mereka sebagai makhluk yang berpredikat Muslim, yang
beriman kepada Allah. Dari sini lalu timbullah pertanyaan: “Apakah hakikat
tauhid itu?”
Hamba Allah, yang beriman ...
Hakikat Tauhid, ialah pemurnian ibadah kepada Allah,
yaitu: menghambakan diri hanya kepada Allah secara murni dan konsekuen, dengan
mentaati segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya dengan penuh rasa
rendah diri, cinta, harap dan takut kepadaNya. Untuk inilah sebenarnya manusia
diciptakan Allah. Dan sesungguhnya misi para Rasul adalah untuk menegakkan
tauhid. Mulai Rasul yang pertama, Nuh, hingga Rasul terakhir, yakni nabi
Muhammad n. Sebagaimana firman Allah:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka menyembahKu.” (Adz-Dzariyat: 56).
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap
umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut.” (An-Nahl:
36)
Sesungguhnya tauhid tercermin dalam kesaksian bahwa tidak
ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Maknanya, tidak ada
yang berhak disembah melainkan Allah dan tidak ada ibadah yang benar kecuali
ibadah yang sesuai dengan tuntunan rasul yaitu As-Sunnah. Orang yang
mengikrarkannya akan masuk Surga selama tidak dirusak syirik atau kufur akbar.
Sebagaimana firman Allah:
“Orang-orang
yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik),
mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah
orang-orang yang, mendapat petunjuk.” (Al-An’am: 82)
Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan, “Ketika ayat ini turun,
para sahabat merasa sedih dan berat. Mereka berkata siapa di antara kita yang tidak berlaku
dzalim kepada diri sendiri lalu Rasul menjawab:
لَيْسَ ذَلِكَ، إِنَّمَا هُوَ الشِّرْكُ،
أَلَمْ تَسْمَعُوْا قَوْلَ لُقْمَانَ لاِبْنِهِ: {يَا بُنَيَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللهِ
إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ}. (متفق عليه).
“Yang
dimaksud bukan (kedzaliman) itu, tetapi syirik. Tidak-kah kalian mendengar
nasihat Luqman kepada puteranya, ‘Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan
Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah benar-benar suatu kedzaliman yang
besar.” (Luqman: 13) (Muttafaqun alaih).
Ayat ini memberi kabar gembira kepada orang-orang yang
beriman yang mengesakan Allah. Orang-orang yang tidak mencampur-adukkan antara
keimanan dengan syirik serta menjauhi segala perbuatan syirik. Sungguh mereka
akan mendapatkan keamanan yang sempurna dari siksa Allah di akhirat. Mereka
itulah yang mendapatkan petunjuk di dunia.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah
...
Jika dia adalah seorang ahli tauhid yang murni dan bersih
dari noda-noda syirik serta ikhlas mengucapkan “laa ilaaha illallah”
maka tauhid kepada Allah menjadi penyebab utama bagi kebahagiaan dirinya, serta
menjadi penyebab bagi penghapusan dosa-dosa dan kejahatannya. Sebagaimana telah
dijelaskan dalam sabda Rasulullah yang diriwayatkan ‘Ubadah bin Ash-Shamit:
مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَأَنَّ عِيْسَى
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِنْهُ، وَالْجَنَّةُ
حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ، أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّهَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ.
(رواه البخاري ومسلم).
“Barangsiapa
bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah semata,
tiada sekutu bagiNya, dan Muham-mad adalah hamba dan utusan-Nya, dan (bersaksi)
bahwa Isa adalah hamba Allah, utusanNya dan kalimat yang disampaikanNya kepada
Maryam serta ruh dari padaNya, dan (bersaksi pula bahwa) Surga adalah benar
adanya dan Nerakapun benar adanya maka Allah pasti akan memasukkan ke dalam
Surga, apapun amal yang diperbuatnya.” (HR. Al-Bukhari dan
Muslim)
Maksudnya, segenap persaksian yang dilakukan oleh seorang
Muslim sebagaimana yang terkandung dalam hadist tadi berhak memasukkan dirinya
ke Surga. Sekalipun dalam sebagian amal perbuatannya terdapat dosa dan maksiat.
Hal ini sebagaimana ditegaskan di dalam hadist qudsi, Allah berfirman:
يَا ابْنَ آدَمَ
إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتني بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطَايَا، ثُمَّ لَقِيْتَنِيْ لاَ تُشْرِكُ
بِيْ شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً. (حسن، رواه الترمذي والضياء).
“Hai
anak Adam, seandainya kamu datang kepadaKu dengan membawa dosa sepenuh bumi,
sedangkan engkau ketika menemuiKu dalam keadaan tidak menyekutukanKu
sedikitpun, niscaya aku berikan kepadamu ampunan sepenuh bumi pula.” (HR.
At-Tirmidzi dan Adh-Dhiya’, hadist hasan).
Hadist tersebut menegaskan tentang keutamaan tauhid.
Tauhid merupakan faktor terpenting bagi kebahagiaan seorang hamba. Tauhid
merupakan sarana paling agung untuk melebur dosa-dosa dan maksiat.
Hamba Allah yang beriman ...
Jika tauhid yang murni terealisasi dalam hidup seseorang,
baik secara pribadi maupun jama’ah, niscaya akan menghasilkan buah yang sangat
manis. Di antara buah manis yang didapat adalah:
- Tauhid memerdekakan manusia dari segala per-budakan dan penghambaan
kecuali kepada Alah. Memerdeka-kan fikiran dari
berbagai khurofat dan angan-angan yang keliru. Memerdekakan hati dari
tunduk, menyerah dan menghinakan diri kepada selain Allah
Memerdekakan hidup dari kekuasaan Fir’aun, pendeta dan thaghut yang
menuhankan diri atas hamba-hamba Allah.
- Tauhid membentuk kepribadian yang kokoh. Arah hidup-nya jelas, tidak menggantungkan diri kepada Allah.
Kepada-Nya ia berdo’a dalam keadaan lapang atau sempit.
Berbeda dengan seorang musyrik yang hatinya terbagi-bagi untuk tuhan-tuhan dan sesembahan yang banyak. Suatu saat ia menyembah orang yang hidup, pada saat lain ia menyembah orang yang mati. Orang Mukmin menyembah satu Tuhan. Ia mengetahui apa yang membuatNya ridla dan murka. Ia akan melakukan apa yang membuatNya ridha, sehingga hati menjadi tentram. Adapun orang musyrik, ia menyembah tuhan-tuhan yang banyak. Tuhan ini menginginkan ke kanan, sedang tuhan yang lainnya menginginkan ke kiri.
- Tauhid mengisi hati para ahlinya dengan keamanan dan ketenangan. Tidak merasa
takut kecuali kepada Allah. Tauhid menutup rapat celah-celah kekhawatiran
terhadap rizki, jiwa dan keluarga. Ketakutan terhadap manusia, jin,
kematian dan lainnya menjadi sirna. Seorang Mukmin hanya takut kepada
Allah. Karena itu ia merasa aman ketika kebanyakan orang merasa ketakutan,
ia merasa tenang ketika mereka kalut.
- Tauhid memberikan nilai Rohani kepada pemilik-nya. Karena jiwanya hanya penuh harap kepada Allah, percaya dan tawakal
kepadaNya, ridha atas qadar (ketentuan) Nya, sabar atas musibah serta
sama sekali tak mengharap sesuatu kepada makhluk. Ia hanya menghadap dan
meminta kepadaNya. Bila datang musibah ia segera mengharap kepada Allah
agar segera dibebaskan darinya. Ia tidak meminta kepada orang-orang mati.
Syi’ar dan semboyannya adalah sabda Rasul:
إِذَا
سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ. (رواه الترمذي
وقال حسن صحيح).
Bila kamu meminta maka mintalah kepada Allah. Dan bila kamu memohon pertolongan maka mohonlah kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih)
Bila kamu meminta maka mintalah kepada Allah. Dan bila kamu memohon pertolongan maka mohonlah kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih)
- Tauhid merupakan dasar persaudaraan dan keadilan. Karena tauhid tidak membolehkan pengikutnya mengambil tuhan-tuhan
selain Allah di antara sesama mereka. Sifat ketuhanan hanya milik Allah
satu-satunya dan semua manusia wajib beribadah kepadaNya. Segenap manusia
adalah hamba Allah dan yang paling mulia di antara mereka adalah Muhammad n kemudian orang yang paling bertaqwa.
Itulah buah manis dari Tauhid yang akan membebaskan
pelakunya dari kehinaan dan kesengsaraan dan Tauhidlah yang akan mengembalikan
kehormatan Islam dan Muslimin, mengembalikan harga diri dan kemuliaan Islam dan
Muslimin, dan menaikkan derajat dan martabat Islam dan Muslimin di atas segala
kehinaan yang selama ini dialami oleh kaum Muslimin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ
اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ
الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ،
إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah kedua:
إِنَّ
الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ
مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيَّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ
اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ؛
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah ...
Kembali pada khutbah yang kedua ini, saya mengajak diri
saya dan jama’ah untuk senantiasa meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah
dengan sesungguhnya. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi
Muhammad, kepada para sahabatnya, keluarganya dan pengikutnya hingga akhir
zaman.
Kemudian dari khutbah yang pertama tadi dapat kita tarik
kesimpulan sebagai berikut:
- Tauhid adalah pegangan pokok dan sangat menentukan bagi kehidupan
manusia, karena tauhid menjadi landasan bagi setiap amal yang
dilakukannya.
- Hakekat Tauhid, ialah pemurnian ibadah kepada Allah, yaitu:
meghambakan diri hanya kepada Allah secara murni dan konsekwen, dengan
mentaati segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya dengan penuh
rasa rendah diri, cinta, harap dan takut kepadaNya.
3. Tauhid
menyebabkan pemiliknya dihapuskan dari segala dosa.
- Tauhid yang terealisasi dalam hidup seseorang, akan menghasilkan
buah yang sangat manis, yaitu:
·
Tauhid memerdekakan manusia dari segala perbudakan dan
penghambaan.
·
Tauhid membentuk kepribadian yang kokoh.
·
Tauhid mengisi hati para ahlinya dengan keamanan dan
ketenangan.
·
Tauhid memberikan nilai ruhiyah kepada pemiliknya.
·
Tauhid merupakan dasar persaudaraan dan persamaan.
Karena itu, marilah pada kesempatan kali ini kita berdo’a
kepada Allah, memohon ampunan atas segala dosa syirik yang pernah kita lakukan
dan kita memohon agar kita dijauhkan dari segala perbuatan syirik dan
pelaku-pelakunya. Kemudian pula kita memohon kepada Allah agar kita dihindarkan
dari kehinaan dan diangkat derajat kita di dunia dan di Akhirat.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ،
يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ
وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَا
آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا. رَبَّنَا هَبْ
لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ
إِمَامًا. رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن
لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَا
أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى
الَّذِيْنَ مِن قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ،
وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ
الْكَافِرِيْنَ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْصُرْهُمْ
عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ، وَاهْدِهِمْ سُبُلَ السَّلاَمِ وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ
الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ، وَبَارِكْ لَهُمْ فِيْ أَسْمَاعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ
وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَاتِهِمْ مَا أَبْقَيْتَهُمْ، وَاجْعَلْهُمْ شَاكِرِيْنَ لِنِعَمِكَ
مُثْنِيْنَ بِهَا عَلَيْكَ قَابِلِيْنَ لَهَا، وَأَتْمِمْهاَ عَلَيْهِمْ بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ
حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ
بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ
وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ
الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ
أَكْبَرُ.
Comments
Post a Comment